9 Jenis Makanan yang Baik untuk Penderita Depresi

9 Jenis Makanan yang Baik untuk Penderita Depresi

YOUR MIND SOLUTION- Depresi bukan hanya sekadar perasaan sedih yang bisa kita sepelekan. Kondisi ini merupakan gangguan mental nyata dan bisa menyebabkan berbagai masalah fisik. Tak jarang, depresi juga bisa memicu keinginan bunuh diri.

Orang yang mengalami depresi bisa merasakan kesedihan atau hampa secara intensif. Bahkan, depresi juga bisa menganggu kualitas tidur dan nafsu makan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik. Gangguan psikomotorik dan kelelahan kronis juga kerap terjadi pada penderita depresi.

Kabar baiknya, ada berbagai langkah untuk mengelola gejala tersebut, salah satunya dengan mengatur pola makan.

pola makan dan depresi Menghimpun data Medical News, kebiasaan makan seseorang juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu depresi. Itu sebabnya, mengatur pola makan juga menjadi bagian penting dalam mengelola gejala depresi.

Riset 2017 membuktikan, gejala derpesi tingkat sedang hingga berat bisa membaik ketika penderitanya menerapkan pola makan sehat selama 12 minggu. Pola makan yang dilakoni berfokus pada makanan segar dan utuh serta bernutrisi tinggi.

Berikut berbagai jenis makanan yang dianjurkan untuk penderita depresi: 1. Selenium Meningkatkan asupan selenium membantu mengontrol suasana hati dan mengurangi kecemasan. Alhasil, hal tersebut juga turut membantu gejala depresi menjadi lebih terkendali.

Makanan mengandung selenium bis akita temukan dalam biji-bjian, beberapa jenis makanan laut, dan kacang-kacangan. 2. Vitamin D Riset 2019 membuktikan asupan vitamin D dapat membantu memperbaiki gejala depresi.

Asupan vitamin D secara alami bisa kita dapatkan dari paparan sinar matahari. Akan tetapi, kita juga bisa memperolehnya dari beberapa jenis makanan seperti ikan, produk susu, hati sapi, dan telur. 3. Omega 3 Asam lemak omega 3 juga terbukti membantu mengatasi gangguan depresi.

Riset 2015 turut membuktikan konsumsi asam lemak omega 3 secara rutin mengurangi risiko gangguan suasana hati. Bahkan, nutrisi ini juga penting untuk meningkatkan fungsi otak dan menjagaselubung mielin yang melindungi sel saraf. Makanan dengan omega 3 yang tinggi bisa kita temukan pada biji rami, beberapa jenis ikan, kenari.

Berkat Pola Makan Sehat 4. Antioksidan Antioksidan membantu menghilangkan radikal bebas, yang merupakan produk limbah dari proses alami dalam tubuh. Jika radikal bebas menumpuk, tubuh bisa mengalami stres oksidatif yang memicu gangguan kecemasan dan depresi.

Untuk mengatasinya, kita bisa mengonsumsi makanan tinggi antioksidan, seperti sayur, buah, dan kedelai. 5. Vitamin B Vitamin B, khususnya B12 dan B9, membantu melindungi dan memeliharan sistem saraf, termasuk otak. Nutrisi ini juga membantu mengurangi risiko gangguan suasana hati, yang merupakan salahs atau gejala depresi.

Makanan kaya vitamin B bisa kita temukanpada telur, daging, tiram, unggas, susu, ikan, sayuran, dan buah. 7. Seng Seng membantu meningkatkan sistem kekebalan dan meminimalisir risiko depresi. Beberapa penelitian menunjukkan penderita depresi memiliki kadar seng yang rendah dalam tubuhnya. Sementara itu, meningkatkan asupan seng membantu antidepresan bekerja lebih efektif.

 

Makanan kaya senf bisa kita temukan dalam kacang polong, biji-bijian, daging sapi dan ayam, labu serta tiram. 8. Protein  Protein juga dapat membantu meringankan gejala depresi. Pasalnya, tubuh menggunakan protein yang disebut triptofan untuk membuat serotonin atau hormon pemicu rasa bahagia. Makanan mengandung triptofan bisa kita temukan pada tuna dan buncis.

Riset 2016 membuktikan mikrobiota usus yang sehat dapat mengurangi gejala dan risiko depresi. Makanan mengandung probiotik bisa kita temukan pada yogurt dan kefir.

Makanan untuk Penderita Diabetes yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi

Makanan untuk Penderita Diabetes yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi

Ada beberapa jenis makanan untuk penderita diabetes yang baik dan buruk untuk dikonsumsi. Hal ini penting untuk diketahui guna menjaga kadar gula dalam darah tetap normal dan stabil. Oleh karena itu, penderita diabetes dianjurkan untuk lebih cermat dalam mengonsumsi makanan.

Menjaga pola makan merupakan hal yang penting dilakukan oleh setiap penderita diabetes. Hal ini karena peningkatan kadar gula darah pada penderita penyakit ini dapat berisiko menimbulkan masalah kesehatan, seperti kelelahan, kerusakan saraf, rentan terkena infeksi dan luka, bahkan kehilangan kesadaran atau koma.

Makanan untuk Penderita Diabetes yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi - Alodokter

Makanan untuk Penderita Diabetes yang Dianjurkan

Selain dengan obat-obatan, diabetes juga perlu ditangani dengan mengikuti pola makan khusus yang disebut terapi nutrisi medis. Melalui terapi ini, penderita diabetes dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi yang rendah lemak dan kalori agar kadar gula darah tetap terkontrol.

Berikut ini adalah beberapa contoh pilihan makanan yang baik untuk penderita diabetes:

  • Makanan yang terbuat dari biji-bijian utuh atau karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, ubi panggang, oatmeal, roti gandum,dan sereal dari biji-bijian utuh
  • Daging tanpa lemak atau ayam tanpa kulit
  • Sayuran, seperti brokoli dan bayam, serta diproses dengan cara direbus, dikukus, dipanggang, atau dikonsumsi mentah
  • Buah-buahan segar dan bila ingin mengolahnya menjadi jus, sebaiknya jangan ditambah gula
  • Kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai dalam bentuk tahu yang dikukus, dimasak untuk sup, atau ditumis
  • Telur
  • roduk olahan susu rendah lemak, seperti yoghurt
  • Berbagai jenis ikan, seperti tuna, salmon, sarden dan makarel, tetapi hindari ikan dengan kadar merkuri tinggi,misalnya ikan tongkol

Makanan untuk Penderita Diabetes yang Harus Dihindari

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, belum puas rasanya jika menu hidangan tidak dilengkapi dengan nasi putih. Padahal, bagi penderita diabetes, makanan pokok ini sebaiknya dihindari karena mengandung kadar gula yang tinggi dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya.

Selain nasi putih, ada beberapa jenis makanan lain yang harus dihindari agar kadar gula darah tetap terjaga, di antaranya:

  • Roti tawar putih
  • Makanan yang terbuat dari tepung terigu
  • Sayuran yang dimasak dengan tambahan garam, keju, mentega, dan saus dalam jumlah banyak
  • Buah-buahan kaleng yang mengandung banyak gula
  • Sayuran kaleng yang mengandung garam tinggi
  • Daging berlemak dan kulit ayam
  • Produk susu tinggi lemak
  • Makanan yang digoreng, seperti ayam goreng, ikan goreng, pisang goreng, dan kentang goreng
  • Makanan dan minuman mengandung gula tinggi, seperti kue, sirop, dan soda

Jika Anda menderita diabetes, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan buatan sendiri. Dengan demikian, Anda bisa memantau bahan baku dan bahan tambahan apa saja yang akan digunakan.

Selain cermat dalam memilih makanan yang dikonsumsi, Anda juga disarankan untuk rutin mengecek kadar gula darah setidaknya 3 bulan sekali dan menerapkan pola hidup sehat.

Dengan pola makan sehat, olahraga, dan pengobatan yang tepat, kadar gula darah dapat lebih mudah terkontrol sehingga risiko terkena komplikasi penyakit diabetes pun akan menjadi lebih rendah.

Penderita diabetes perlu lebih hati-hati saat memilih dan mengonsumsi makanan. Jika membutuhkan saran mengenai menu atau porsi makanan untuk penderita diabetes, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

7 Tips agar Anak Terbiasa dan Mau Makan Serat, Bisa Diberikan Camilan Bun

7 Tips agar Anak Terbiasa dan Mau Makan Serat, Bisa Diberikan Camilan Bun

your mind solution – Bunda, apakah makanan Si Kecil sudah memenuhi asupan serat yang dibutuhkan tubuhnya? Ingat ya, serat dibutuhkan oleh anak untuk memenuhi nutrisi dan metabolisme tubuhnya nih.

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, anak berusia 1 sampai 3 tahun membutuhkan asupan serat 19 gram per hari. Sayangnya, asupan ini masih sangat kurang bagi anak Indonesia.

Penelitian di Jakarta tahun 2020 menemukan bahwa anak usia 6-36 bulan hanya mengonsumsi sekitar 5,6 gram serat per hari. Artinya, ada 88,1 persen anak yang kekurangan serat dalam sehari dan 21,6 persen dapat berisiko mengalami konstipasi.

Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kebanyakan anak mendapatkan serat dari nasi, yakni 93,4 persen. Padahal, nasi hanya mengandung 0,2 gram serat, Bunda.

Menurut ahli nutrisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, orang tua perlu mengetahui dengan tepat strategi pemenuhan serat ini untuk anaknya. Selain memberikan menu makan yang tepat, Bunda juga perlu tahu bila anak memiliki preferensi terhadap makanan.

“Anak-anak punya preferensi sejak lahir menyukai rasa manis da asin dan ini tidak diperoleh dari makanan tinggi serat. Mereka tidak suka rasa pahit dan asam,” kata wanita yang akrab disapa Tati ini dalam dalam Virtual Press Conference Peluncuran Kampanye ‘Jam Makan Serat’ via Zoom, baru-baru ini.

Bunda juga perlu tahu bahwa anak bisa mengalami neofobia, yakni menolak konsumsi jenis makanan tertentu seperti sayuran dan buah. Bila kondisi ini bisa diatasi, orang tua hanya perlu mengontrol jumlah dan jenis makan anak dengan cara yang positif.

Strategi untuk kecukupan asupan serat anak bisa dilakukan secara bertahap. Bunda bisa mencoba 7 tips atau strategi berikut:

1. Memberikan contoh

Ayah dan Bunda perlu memberikan contoh atau menjadi role model bagi anak. Coba konsumsi makanan mengandung serat yang teratur dan terjadwal setiap hari agar anak terbiasa.

“Makanan-makanan berserat ini walaupun tidak disukai anak, tapi kita sebagai orang tua perlu memberikan contoh. Konsumsinya teratur dan terjadwal setiap hari,” kata Tati.

2. Memberikan sayuran

Bunda perlu membiasakan untuk memberikan sayuran pada menu makan utama anak ya. Jangan menyerah da coba berulang-ulang sampai anak benar-benar mengenal rasa sayuran

3. Memberikan buah

Buah memiliki rasa manis yang disukai anak-anak usia di bawah 5 tahun, Bunda. Kita dapat memberikan buah sebagai selingan antara dua waktu makan utama.

4. Menyediakan bahan makanan kaya serat

Bunda perlu menyiapkan berbagai bahan makanan yang kaya akan serat bila menu makan utama anak tidak mampu memenuhi kebutuhan hariannya. Contoh makanan berserat adalah roti, biskuit, atau sereal.

5. Tambahkan serat pada sup

Saat membuat sup, Bunda bisa menambahkan bahan makanan tinggi serat ya. Selain sayur, jangan lupa tambahkan kacang-kacangan atau polong-polongan di dalam hidangan lauk seperti sup.

6. Sediakan produk makanan kaya serat

Selain dari bahan makanan utama, coba sediakan produk makanan yang kaya serat fungsional. Saat ini, sudah banyak produk mengandung serat yang aman dikonsumsi anak-anak.

“Kita sebagai orang tua cukup bertanggung jawab mengenalkan produk tersebut sambil mengenalkan buah dan sayur,” ujar Tati.

7. Membuat makanan selingan

Tak cuma dari makan utama, serat juga bisa dimasukkan sebagai makanan selingan atau camilan. Selain membeli, Bunda bisa membuatnya sendiri di rumah. Jangan lupa untuk melihat apa yang disukai anak ya.