10 Artis yang Mendapat Pujian Warganet Karena Cara Parenting Mereka. Senang Lihatnya!

10 Artis yang Mendapat Pujian Warganet Karena Cara Parenting Mereka. Senang Lihatnya!

Menjadi artis papan atas dan terjun ke dunia hiburan harus siap dengan konsekuensi buruk. Pasalnya setelah menjadi artis seluruh kehidupan kita kerap jadi sorotan publik. Sebut saja perkataan, pebuatan dan aktivitas yang mungkin bakal sering dihakimi oleh warganet. Apalagi kalau soal mendidik anak.

Banyak warganet yang menjadi bulan-bulanan warganet karena salah memperlakukan anak. Namun nggak sedikit juga selebritas yang gaya parenting-nya menuai pujian dari warganet. Gaya mendidik para artis yang unik dan fleksibel membuat hubungan keduanya terlihat harmonis.  Pengen tahu siapa saja? Yuk langsung simak aja 10 artis yang menuai pujian warganet karena parenting-nya di bawah ini!

1. Nggak seperti artis lain yang sering mengumbar kemewahan, di laman Instagram pribadinya Aurelia Carisa kerap membagikan tips parenting di tiap postingannya. Cara mendidik Aurelia juga menuai pujian karena enerjik dan penuh senyuman

Aurelia dan anak via www.instagram.com

2. Berbeda dengan orang tua lain, gaya parenting Melaney Ricardo menuai pujian karena ia nggak segan untuk berlaku dan berkata blak-blakan pada sang anak. Warganet memuji sifat apa adanya Melaney Ricardo pada sang anak

Melaney dan dua anaknya via www.instagram.com

3. Sebagai ayah, gaya parenting Dwi Sasono cukup unik. Ia sangat menekankan kreativitas dengan cara traveling dan menjauhkan anak-anaknya dari aktivitas bermain gawai

Dwi Sasono dan keluarga via www.instagram.com

4. Manajemen waktu mengasuh anak antara Irfan Bachdim dan Jennifer Bachdim kerap dipuji oleh warganet. Di samping anaknya mendapat perhatian yang dibutuhkan sang ibu dan ayah juga bisa beraktivitas dengan leluasa

Bachdim sekeluarga via www.instagram.com

5. Donna Agnesia dan sang suami menghilangkan batasan orang tua-anak pada buah hati mereka. Donna sering menggunakan bahasa-bahasa yang nggak memerintah dan berperilaku sebagai teman pada anak-anaknya

Donna Agnesia dan keluarga via www.instagram.com

6. Meski Deddy Corbuzier dan Kalina telah bercerai, keduanya memberikan kasih sayang dan perhatiannya pada Azka Corbuzier. Meski pada faktanya Azka adalah anak broken home, gaya parenting mantan suami istri ini amat efektif dan nggak egois

Azka dan Deddy Corbuzier via www.instagram.com

7. Dian Sastro menekankan gaya hidup sehat pada kedua anaknya. Dian dan suami sebisa mungkin menjauhkan anaknya dari gawai. Sebab Dian merasa bahwa kepasifan anaknya dikarenakan gawai yang dulu sering dimainkan

Dian Sastro via www.instagram.com

8. Meski telah bercerai dan kini menikah lagi, komunikasi Dewi Lestari dan mantan suaminya Marcell tetap terjalin baik. Hal ini dilakukan demi tumbuh kembang anak mereka berdua

Dee Lestari via www.instagram.com

9. Artika Sari Devi dan suami menggunakan metode mendongeng pada anak-anaknya. Hal ini diharapkan bisa melatih kemandirian, berpikir kritis dan imajinasi sang buah hati

Artika Sari via www.instagram.com

10. Novita Angie dan sang suami menentukan pola asuh anak yang efektif setelah mereka mengetahui karakter buah hatinya dari tes sidik jari

Novita Angie via www.instagram.com

Nah itu dia 10 artis yang menuai pujian dari warganet karena gaya parenting-nya. Keren dan penuh inspirasi ‘kan?

10 Gaya Parenting Artis Paling Aneh: Alanis Morissette Menyusui Sampai 6 Tahun

10 Gaya Parenting Artis Paling Aneh: Alanis Morissette Menyusui Sampai 6 Tahun

Menurut psikoterapis Amy Morin, LCSW, gaya pengasuhan juga bisa memengaruhi perasaan anak terhadap dirinya sendiri. Itulah sebabnya, penting bagi orang tua memastikan pola asuh yang diterapkan bisa membawa pengaruh baik untuk tumbuh kembang buah hatinya.

“Penting untuk memastikan, gaya pengasuhan kita mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak karena cara ini bisa memengaruhi selama sisa hidupnya,” kata Morin, dilansir Very Well Family.

Gaya parenting yang berbeda juga diterapkan para artis Hollywood, Bunda. Tak sedikit dari artis ini mengasuh anaknya dengan gaya parenting unik. Beberapa di antaranya bahkan menerapkan aturan aneh dan jadi kontroversi.

Lalu, seperti apa pola asuh deretan artis Hollywood yang diklaim aneh ini? Melansir dari Moms dan More, berikut 10 gaya parenting mereka:

1. Jada Pinkett Smith

Jada Pinkett Smith tak menerapkan aturan ketat saat mengasuh dua anaknya, Jaden dan Willow. Istri Will Smith ini tetap membimbing kedua anaknya, tetapi mengizinkan anak-anaknya menetapkan hukuman untuk mereka sendiri.


Alicia Silverstone menerapkan pola asuh yang cukup aneh pada buah hatinya, Bunda. Wanita 44 tahun itu memberi makan anaknya dengan makanan yang telah dikunyah di mulutnya. Cara ini disamakan dengan burung yang memberi makan anaknya.
2. Alicia Silverstone

3. Celine Dion

Pelantun lagu The Power Of Love ini memberi kebebasan pada anak-anaknya untuk membuat keputusan sendiri. Seperti saat putranya Rese Charles memutuskan kapan harus memotong rambutnya.

Putra Celine Dion ini tidak mencukur rambutnya sampai usia 8 tahun lho, Bunda. Padahal, saat itu, mencukur rambut jadi aturan wajib di sekolah.

Mau tahu lagi gaya parenting aneh artis lainnya? Lihat di halaman selanjutnya ya, Bunda.

MADONNA TAK IZINKAN ANAK NONTON TV

4. Alanis Morissette

Alanis Morissette percaya bahwa memelihara ikatan batin bisa membuat anak tidak manja di kemudian hari. Ia pun berniat untuk terus menyusui putranya sampai dia siap untuk berhenti, yakni di usia enam tahun.

5. Tom Cruise dan Katie Holmes

Tom Cruise dan Katie Holmes termasuk orang tua yang bebas. Saat masih menikah, keduanya kompak membesarkan anak mereka, Suri, untuk berdandan.

Saat berusia lima tahun, Suri sudah diizinkan memakai riasan dan sepatu hak tinggi, Bunda. Suri bahkan dibolehkan minum kopi meski masih diberi susu botol.

6. Madonna

Madonna tidak mengizinkan anak-anaknya menonton televisi (TV) dan membaca koran lho, Bunda. Pelantun lagu Hung Up ini juga cukup disiplin memilih dongeng pengantar tidur untuk anak-anaknya.

Saat masih menikah dengan Guy Ritchie, Madonna tidak mengizinkan siapapun mendongeng, kecuali suaminya. Dongeng yang dibacakan pun hanya boleh dari buku karya Madonna yang berjudul David the English Rose

ANGELINA JOLIE IZINKAN ANAK MAKAN SERANGGA

Gaya parenting artis yang aneh

7. Johnny Depp

Johnny Depp menerapkan pola asuh yang cukup aneh untuk anak-anaknya. Putrinya, Lily Rose, bahkan mengakui keanehan sang ayah, Bunda.

Depp menyimpan potongan poni rambut Lily Rose, saat putrinya duduk di kelas 4 SD. Aktor 57 tahun ini juga mengatakan jika anak-anaknya ingin merokok ganja, dia lebih suka mereka mendapatkan barang ini darinya. Waduh! Kalau yang ini tak patut ditiru ya, Bunda.

8. Angelina Jolie

Putri Angelina Jolie, Shiloh, ternyata suka makan tarantula dan sering ngemil jangkrik. Sementara anak bungsunya, Knox, menganggap serangga sebagai camilan yang rasanya seperti keripik.

Angelina Jolie tidak pernah mengatur jenis makanan yang dikonsumsi anak-anaknya. Ia bahkan mengizinkan mereka makan camilan permen di malam hari.

9. Hillary Duff

Hillary Duff punya cara unik untuk menyimpan kenangannya bersama sang putra, Luca Cruz. Meski terkesan aneh dan menjijikkan, Duff mengaku menyimpan bagian tali pusar putranya, Bunda.

10. Gwyneth Paltrow

Gwyneth Paltrow mengizinkan dua anaknya, Apple dan Moses, menonton TV tetapi hanya dalam bahasa Prancis dan Spanyol. Pada 2012, Paltrow juga mengungkapkan bahwa dia sering mandi bersama kedua anaknya.

5 Kesalahan Mendidik Anak yang Sering Dilakukan, Yuk Berubah!

5 Kesalahan Mendidik Anak yang Sering Dilakukan, Yuk Berubah!

Ada banyak pelajaran dalam hidup yang perlu kita kuasai. Salah satunya menjadi orang tua yang baik. Mengasuh dan mendidik anak nggak mirip dengan matematika satu tambah satu sama dengan dua.

Dikarenakan karakter anak beda-beda, bisa jadi cara A tidak memberi hasil yang sama pada semua anak. Yang penting, ayah bunda terus mau belajar dan berbenah diri jika ternyata pola pengasuhan selama ini kurang tepat. Misalnya menghindari 5 kesalahan di bawah ini yang kerap dilakukan para orang tua. Yuk disimak!

1. Menyalahkan benda

Praktik sudah sangat umum, ketika anak misalnya terpeleset, sontak yang disalahkan adalah lantainya. Lantai dibilang nakal.

Meski tampak remeh, tapi ternyata kebiasaan menyalahkan benda-benda mati ini bisa berpengaruh pada psikologis anak. Anak jadi berpikir bahwa dia tidak pernah salah dan malah terbiasa untuk menyalahkan lingkungan sekitar.

Alih-alih melakukan hal tersebut, sebaiknya ayah bunda coba katakan ‘nanti jalannya lebih hati-hati lagi ya nak, supaya tidak terpeleset’. Dengan begitu, anak jadi tahu untuk tidak ceroboh saat jalan dan lebih berhati-hati.

2. Sering menakut-nakuti anak

Ayo pulang, bentar lagi maghrib. Nanti dibawa wewe gombel lho!

Menakut-nakuti anak memang metode efektif agar anak nurut. Tapi ini bukanlah cara yang baik. Anak jadi terdidik menjadi penakut.

Coba saja berikan pengertian kenapa dia harus pulang. Bahwa waktu mainnya habis, besok boleh kembali diteruskan main lagi. Dengan demikian, si kecil jadi tahu bahwa aturannya, jika sudah menjelang malam harus berhenti main di luar.

3. Overprotektif

Segala yang berlebihan memang akibatnya tidak akan bagus. Termasuk dalam melindungi anak. Maksudnya sih baik, mengurangi risiko anak terluka sehingga melarangnya main.

Tapi jika ini dibiasakan, justru berdampak buruk bagi si kecil. Anak jadi kurang bisa bersosialisasi karena jarang dibolehkan main bersama teman-temannya. Terlalu overprotektif juga bisa mengekang anak sehingga jadi kurang mandiri dan penakut untuk mencoba hal-hal yang baru.

Ayah bunda cukup menjaga mereka saat main. Selama dalam pengawasan dan lingkungannya aman, bebaskan saja anak bersama teman-temannya, supaya mereka tumbuh jadi anak pemberani dan supel.

4. Tidak konsisten

Sering kali yang membuat anak menjadi sulit diatur adalah akibat didikan orang tua sendiri. Kata-kata orang tua tak bisa dipegang, alias tidak konsisten.

Sudah sampai galak pakai mengancam segala, kalau si kecil tetap main HP, maka besoknya tidak boleh main sama sekali. Tapi faktanya, ketika anak terus menangis, akhirnya dibiarkan saja bermain HP. Tanpa sadar, pola asuh seperti ini mengajarkan anak untuk manipulatif.

Mereka tahu bahwa omongan orang tuanya tidak bertaji. Tinggal nangis saja, nanti juga luluh. Akhirnya tangisan dijadikan senjata untuk melakukan apa saja semau mereka.

5. Banyak mainan tapi minim kontak

Memang tugas orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak. Namun sebaiknya, seimbangkan antara bekerja dengan waktu bersama keluarga.

Jangan sampai kamar si kecil penuh sekali dengan mainan yang mahal-mahal, tapi jarang mendapatkan kasih sayang. Bertemu dengan orang tuanya jadi momen langka. Kalaupun sedang bersama, masing-masing tidak fokus memberi perhatian pada anak karena terpecah dengan tugas kerja.

Itu dia beberapa kesalahan parenting yang sering dilakukan orang tua. Semoga setelah membaca ini, tidak lagi ya!

Agar Tidak Mudah Bertengkar, Ketahui 9 Hal tentang Suami

Agar Tidak Mudah Bertengkar, Ketahui 9 Hal tentang Suami

Mudah curiga atau cemburu dengan suami mungkin dikarenakan kamu belum paham betul tentang pria. Pasalnya, ada beberapa sifat pria yang memang agak sulit dimengerti oleh wanitaCoba pahami hal-hal ini agar bisa lebih mengenal pasanganmu.

Pertengkaran dalam rumah tangga sering kali dipicu oleh kesalahpahaman. Hal itu sendiri mungkin terjadi karena kita tidak mengenal dengan baik siapa pasangan kita. Agar terhindar dari masalah yang serius dalam pernikahan hanya akibat salah paham, yuk, ketahui apa saja yang sebenarnya dipikirkan oleh pria.

Agar Tidak Mudah Bertengkar, Ketahui 9 Hal tentang Suami - Alodokter

Kenali Suami Lebih Dalam

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin banyak wanita belum tahu tentang pria:

1. Sangat memegang komitmen

Pria kerap dicap tidak suka berkomitmen. Pada kenyataannya, ketika pria telah memutuskan untuk berkomitmen dan menikah, dia memang benar-benar serius ingin menjalani hal tersebut. Dia hanya butuh waktu untuk memastikan apakah pilihannya tepat atau tidak.

2. Ingin punya waktu untuk dirinya sendiri

Menikah bukan berarti kalian wajib untuk selalu menghabiskan waktu bersama-sama setiap hari dalam seminggu. Kamu perlu memberikan dia waktu untuk dirinya sendiri, seperti melakukan hobinya atau berkumpul dengan teman-temannya. Tak hanya suami, kamu juga perlu menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri.

3. Pria menyatakan rasa cinta dengan tindakan

Jika suamimu jarang mengucapkan “sayang” kepadamu, jangan langsung menganggap dia memang tidak menyayangi atau mencintai kamu. Sebagian pria memang lebih memilih menyatakan rasa cintanya dengan tindakan. Misalnya, ikut membantu membereskan rumah atau mengajakmu makan malam bersama.

4. Mudah melupakan masalah

Kamu masih kesal dengan perdebatan yang terjadi semalam, dan masih ingin membahasnya pada keesokan harinya? Lebih baik lupakan saja.

Secara psikologis, kaum wanita memang lebih cenderung untuk mengingat dan larut dalam hal-hal yang membuatnya sedih atau stres. Sebaliknya, pria justru mudah melupakan dan tidak ingin mengungkit hal-hal semacam itu.

5. Kurang bisa membaca ‘kode’

Sebenarnya pria senang jika bisa membuat istrinya bahagia. Baginya, hal itu sangatlah penting. Namun, hal tersebut bisa sulit dilakukan jika istri tidak menyampaikan keinginannya secara langsung dan jelas.

Pasalnya, tidak semua pria mampu membaca “kode” yang wanita berikan. Jadi, mulai sekarang ungkapkan saja semua hal yang ada dalam hatimu secara gamblang kepada suami.

6. Senang jika dipuji

Ketika suamimu sudah melakukan sesuatu untuk membuatmu senang, berikan dia pujian. Apresiasi darimu bisa membuatnya bahagia dan lebih bijak dalam bertindak. Bahkan menurut sebuah studi, keterlibatan suami dalam mengurus anak dapat meningkat jika istri memberi pujian atas usahanya.

7. Tidak melulu soal seks

Bukan rahasia umum jika pria hampir selalu memikirkan seks. Namun, hal itu tidak selalu bisa diwujudkan dalam tindakan. Pasalnya, pria tidak selalu siap untuk berhubungan seks, apalagi jika dia sedang memiliki setumpuk pekerjaan atau hal-hal lain yang membuatnya stres.

8. Senang jika kamu duluan mengajaknya bercinta

Salah satu kesalahan kaum wanita adalah kurang berani mengajak suami untuk bercinta lebih dulu. Padahal, pria sangat suka jika kamu melakukannya. Para pria senang dikejar dan dipimpin oleh wanita untuk urusan yang satu ini. Agar membuat suami lebih bersemangat, kamu bisa merayunya saat sedang ingin becinta.

9. Penting untuk membuat dia merasa dicintai

Kamu harus berhati-hati ketika seorang pria merasa dirinya tidak dicintai dan kurang diperhatikan oleh pasangannya. Dia mungkin akan mencari kepuasan melalui hal lain. Kepuasan itu mungkin bisa dia dapat dengan bermain video game tak kenal waktu, bekerja hingga larut malam, dan tidak menutup kemungkinan untuk berselingkuh.

Intinya, kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Maka mulai sekarang, bangunlah komunikasi yang lebih baik dengan suami. Jika kamu dan pasangan memiliki masalah dalam urusan rumah tangga dan merasa sulit untuk mencari titik temu, jangan ragu berkonsultasi ke psikolog dan menjalani konseling pernikahan.

Ini Dampak Perceraian Terhadap Anak dan Cara Membantunya

Ini Dampak Perceraian Terhadap Anak dan Cara Membantunya

Perceraian tak jarang dianggap sebagai jalan keluar dari beragam permasalahan rumah tangga. Sebagian orang memilih perceraian untuk menyelesaikan konflik dalam rumah tangga, namun lupa bahwa perceraian juga dapat memberikan dampak negatif kepada anak.

Perceraian orang tua dapat menyisakan luka dalam benak anak. Bahkan, luka yang dialami anak mungkin saja akan terus dibawanya hingga dewasa. Dampak yang mungkin terjadi pada setiap anak bisa berbeda-beda, tergantung dari usia anak pada saat orang tua bercerai, kondisi perceraian, serta kepribadian anak tersebut.

Ini Dampak Perceraian Terhadap Anak dan Cara Membantunya - Alodokter

Oleh karena itu, sebelum memutuhkan untuk bercerai, tidak ada salahnya bagi Bunda dan Ayah untuk mencoba memperbaiki hubungan kembali.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Bercerai

Perceraian bisa menyebabkan anak-anak mengalami kemunduran dalam kemampuan belajar dan merasa tidak akrab dengan orang tua ketika sudah dewasa. Sebagian anak yang orang tuanya bercerai saat mereka berusia 5 tahun atau lebih kecil, tidak merasa memiliki ikatan khusus dengan orang tuanya, atau memiliki perasaan tidak nyaman saat bersama mereka.

Bukan hanya itu, anak-anak yang orang tuanya bercerai umumnya akan merasakan emosi yang campur aduk, antara kaget, sedih, cemas, marah atau bingung. Sebagian anak juga lebih berisiko mengalami masalah dalam bersosialisasi. Tak jarang anak akan merasa rendah diri dan iri pada anak lain yang memiliki keluarga yang utuhsehingga ia menjadi pendiam, lebih suka menyendiri, dan enggan berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, kurang percaya diri bisa menjebak Anda dalam hubungan yang tidak sehat, misalnya codependent relationship.

Bantu Anak Melalui Masa Sulit Perceraian Orang Tua

Tentu tidak ada pasangan yang mengharapkan perceraian. Namun, keadaan bisa saja memaksa pasangan suami istri untuk menempuh jalur perceraian. Dalam kondisi seperti ini, bukan hanya suami dan istri yang membutuhkan pertolongan, tapi juga anak-anak mereka.

Jika Bunda dan Ayah menghadapi situasi sulit seperti ini, lakukan cara-cara berikut  untuk menjaga perasaan Si Kecil:

  • Bicarakan pada anak dengan tepat
    Sampaikan alasan untuk perceraian dengan tenang, meski tidak semua alasan perlu diberitahukan kepada anak. Berilah pemahaman pada anak bahwa ia akan tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua. Jika anak masih terlalu kecil untuk memahami ini, berilah pemahaman yang sederhana, misalnya Bunda dan Ayah harus tinggal di rumah yang berbeda agar tidak bertengkar terus menerus.
  • Pahami dan dengarkan perasaan anak
    Ketika orang tua memutuskan untuk bercerai, anak dapat merasa bingung, sebagian bahkan merasa bersalah, atau merasa orang tua seharusnya lebih memahami dirinya. Bunda dan Ayah harus mencoba untuk mengesampingkan dulu masalah yang dihadapi, dan mulai dengarkan Si Kecil secara seksama, lalu berikan respon spesifik terhadap apa yang ia rasakan.
  • Hindari konflik dengan pasangan di depan anak
    Peceraian sudah menyisakan luka di hati anak. Maka, jangan sampai tekanan yang ia alami semakin berat dengan berdebat atau bertengkar di depannya. Hindari hal ini sebisa mungkin karena dapat meningkatkan stres pada anak.
  • Jangan ganggu rutinitas anak
    Perceraian umumnya berarti tinggal terpisah. Disarankan untuk meminimalkan hal-hal yang bisa mengganggu rutinitas anak. Contohnya, sering berpindah tempat sehingga anak perlu berpindah-pindah sekolah.
  • Perbaiki hubungan dengan anak
    Rasa sakit akan sembuh melalui perasaan dipahami dan disayangi. Ungkapkan permohonan maaf kepada anak atas apa yang terjadi. Selain itu, sebisa mungkin Bunda dan Ayah tetap terlibat dalam kehidupan Si Kecil, sehingga ia tidak merasa kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya.

Hindari melakukan kesalahan yang dapat memperburuk kondisi anak, seperti berkeluh kesah pada anak. Jangan jadikan anak sebagai perantara atau pengantar pesan, apalagi sebagai pelampiasan. Hal ini dapat membuat anak membenci salah satu pihak. Selain itu, usahakan untuk tidak menjalin hubungan baru sebelum anak benar-benar mengerti dan bisa menerima keadaan ini.

Bagaimanapun, perceraian tetap akan menyisakan luka, baik bagi anak maupun orang tua. Jangan biarkan anak merasakan dampak yang lebih buruk lagi dari kondisi tersebut. Bunda dan Ayah dapat melakukan cara-cara di atas untuk membantu Si Kecil melalui masa-masa yang sulit akibat perceraian. Jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog jika Bunda, Ayah, atau anak memerlukan bantuan secara profesional.

5 Prinsip Parenting Membentuk Karakter Positif pada Anak

5 Prinsip Parenting Membentuk Karakter Positif pada Anak

Membesarkan dan mendidik anak bukanlah perkara mudah. Kekeliruan orang tua dalam menerapkan pola asuh dapat memengaruhi perilaku anak di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempelajari prinsip parenting yang benar agar bisa membentuk karakter positif pada anak.

Anak bagaikan kertas putih kosong yang bisa dihiasi dengan coretan atau tulisan. Tulisan tersebut bisa membuat kertas menjadi indah atau sebaliknya. Nah, semua itu tergantung pada pola asuh yang orang tua terapkan kepada anak.

5 Prinsip Parenting Membentuk Karakter Positif pada Anak - Alodokter

Prinsip Pola Asuh yang Perlu Diterapkan Orang Tua

Pola asuh yang baik dapat membantu menumbuhkan rasa kepedulian, kejujuran, kemandirian, dan keceriaan pada diri anak.

Cara pengasuhan yang baik juga dapat mendukung kecerdasan anak dan melindungi anak dari rasa cemas, depresi, pergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba. Pola asuh yang baik juga dapat mengurangi risiko anak mengalami gangguan perilaku.

Prinsip utama pola asuh yang baik adalah membesarkan dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan menjadi teman yang menyenangkan.

Berikut ini adalah 5 prinsip pola asuh atau parenting yang bisa Anda terapkan:

1. Menjadi panutan yang baik bagi anak

Anak cenderung akan meniru apa yang orang tuanya lakukan. Oleh karena itu, menjadi panutan yang baik bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak yang penting dilakukan oleh para orang tua.

Ketika Anda ingin menanamkan karakter positif pada anak, berilah contoh pada mereka, misalnya dengan selalu berkata jujur, berperilaku baik dan santun terhadap orang lain, serta membantu orang lain tanpa mengharap imbalan.

Selain itu, tunjukkan kepada anak bagaimana cara hidup sehat, misalnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari, menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur, serta membuang sampah pada tempatnya.

2. Jangan terlalu memanjakan anak

Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak sadar bahwa selama ini Anda selalu menuruti kemauan si buah hati. Nah, ini saatnya untuk menghentikan kebiasaan tersebut sekaligus memberi pembelajaran pada anak agar ia tidak terlalu manja.

Sebagai contoh, jangan turuti kemauan anak ketika dia menangis atau tantrum karena ingin menonton televisi saat waktunya tidur malam, minta dibelikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, atau ketika ia merengek untuk bermain gadget.

Mendisiplinkan anak merupakan salah satu bentuk kasih sayang anak yang penting dilakukan orang tua dalam membentuk karakter yang baik pada anak.

Meski demikian, jangan pula memarahinya atau bahkan memukulnya ketika ia berbuat kesalahan. Cobalah menegurnya dengan lembut namun tegas ketika ia berbuat salah dan berikan pemahaman kepadanya.

Jangan lupa juga berikan pujian ketika ia melakukan hal yang baik. Ini akan memotivasinya untuk menjadi anak yang baik.

3. Luangkan waktu untuk anak setiap hari

Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, bisa melakukan tindakan tidak baik atau berkelakuan buruk. Biasanya, mereka melakukan tindakan tersebut untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.

Jadi, sesibuk apa pun Anda, selalu luangkan waktu untuk terlibat dalam kehidupannya. Terutama bagi para ayah, ini sangat penting untuk menjalin hubungan ayah dan anak yang baik.

Namun perlu diingat, melibatkan diri dalam kehidupan anak bukan berarti Anda harus terus-menerus berada di sampingnya, lho!

Luangkan waktu untuk menjalin hubungan dan kegiatan berkualitas, seperti sarapan bersama, mengantarnya ke sekolah, datang ke setiap acara yang dilakukan anak, atau sebatas berbincang sebelum tidur mengenai kegiatan yang dilakukannya seharian.

4. Tumbuhkan sifat kemandirian pada anak

Melatih anak agar mandiri dapat ditanamkan dengan cara memberikan anak kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi. Misalnya, dengan mengajarkan anak untuk merapihkan mainan dan tempat tidurnya sendiri atau sekedar membiasakan anak untuk menyiapkan bekal sekolahnya sendiri.

Saat anak memasuki masa remaja, orang tua juga bisa mendukung dan membantu anak untuk menyelesaikan masalah pribadinya, yaitu dengan berdiskusi dan mengarahkan pikiran anak untuk mengambil sikap terbaik.

Pahamilah bahwa belajar mandiri tidak mudah bagi anak. Jadi, tunjukkan apresiasi dan kasih sayang Anda pada setiap usaha dan keberhasilannya. Misalnya, dengan mengucapkan terima kasih atau memberikan pujian ketika ia menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Anda juga bisa menyelipkan selembar kertas di bekal makanannya yang bertuliskan “Mama sayang dan bangga padamu”. Dengan begitu, anak akan merasa dirinya berharga. Namun ingat, saat mereka gagal atau berbuat salah, jangan mengejeknya, apalagi membandingkan dirinya dengan anak-anak lain.

5. Tentukan peraturan di rumah dengan menyertai alasannya

Menerapkan peraturan bisa membantu anak Anda untuk belajar mengendalikan diri dan membedakan perilaku baik dan buruk. Ketika membuat peraturan, jelaskan alasan mengapa peraturan tersebut dibuat.

Misalnya, menggunakan listrik seperlunya untuk menghemat biaya, tidak berlebihan dalam menggunakan gadget atau handphone karena tidak baik untuk kesehatan, atau tidak menonton TV sebelum pekerjaan rumah selesai.

Pastikan Anda selalu konsisten dalam menerapkan peraturan yang Anda buat. Jika Anda tidak konsisten, anak akan merasa bingung dan mungkin akan meremehkan peraturan.

Mendisiplinkan anak memang penting, tapi tidak dengan cara yang terlalu keras, seperti melontarkan kata-kata kasar atau bahkan memukulnya. Anak yang terbiasa dipukul orang tuanya cenderung lebih suka berkelahi dan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah dengan teman-temannya.

Konsisten menerapkan prinsip pola asuh di atas memang tidak semudah yang dibayangkan, mengingat setiap orang tua juga memiliki keterbatasan, baik soal waktu maupun tenaga. Akan lebih baik jika Anda fokus pada hal yang paling perlu diperhatikan terlebih dahulu.

Yang tidak kalah penting, orang tua atau pengasuh anak paruh waktu (babysitter) harus paham bahwa lingkungan dan usia bisa memengaruhi perilaku anak. Jadi, terapkan pola asuh sesuai usia dan perkembangan buah hati Anda.

Jika Anda mengalami kesulitan dalam menerapkan prinsip pola asuh ini atau apabila anak memiliki masalah dalam berperilaku, cobalah untuk berdiskusi dan meminta saran dari orang tua lain, orang tua Anda, atau guru di sekolah anak Anda.

7 Tips agar Anak Terbiasa dan Mau Makan Serat, Bisa Diberikan Camilan Bun

7 Tips agar Anak Terbiasa dan Mau Makan Serat, Bisa Diberikan Camilan Bun

your mind solution – Bunda, apakah makanan Si Kecil sudah memenuhi asupan serat yang dibutuhkan tubuhnya? Ingat ya, serat dibutuhkan oleh anak untuk memenuhi nutrisi dan metabolisme tubuhnya nih.

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, anak berusia 1 sampai 3 tahun membutuhkan asupan serat 19 gram per hari. Sayangnya, asupan ini masih sangat kurang bagi anak Indonesia.

Penelitian di Jakarta tahun 2020 menemukan bahwa anak usia 6-36 bulan hanya mengonsumsi sekitar 5,6 gram serat per hari. Artinya, ada 88,1 persen anak yang kekurangan serat dalam sehari dan 21,6 persen dapat berisiko mengalami konstipasi.

Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kebanyakan anak mendapatkan serat dari nasi, yakni 93,4 persen. Padahal, nasi hanya mengandung 0,2 gram serat, Bunda.

Menurut ahli nutrisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, orang tua perlu mengetahui dengan tepat strategi pemenuhan serat ini untuk anaknya. Selain memberikan menu makan yang tepat, Bunda juga perlu tahu bila anak memiliki preferensi terhadap makanan.

“Anak-anak punya preferensi sejak lahir menyukai rasa manis da asin dan ini tidak diperoleh dari makanan tinggi serat. Mereka tidak suka rasa pahit dan asam,” kata wanita yang akrab disapa Tati ini dalam dalam Virtual Press Conference Peluncuran Kampanye ‘Jam Makan Serat’ via Zoom, baru-baru ini.

Bunda juga perlu tahu bahwa anak bisa mengalami neofobia, yakni menolak konsumsi jenis makanan tertentu seperti sayuran dan buah. Bila kondisi ini bisa diatasi, orang tua hanya perlu mengontrol jumlah dan jenis makan anak dengan cara yang positif.

Strategi untuk kecukupan asupan serat anak bisa dilakukan secara bertahap. Bunda bisa mencoba 7 tips atau strategi berikut:

1. Memberikan contoh

Ayah dan Bunda perlu memberikan contoh atau menjadi role model bagi anak. Coba konsumsi makanan mengandung serat yang teratur dan terjadwal setiap hari agar anak terbiasa.

“Makanan-makanan berserat ini walaupun tidak disukai anak, tapi kita sebagai orang tua perlu memberikan contoh. Konsumsinya teratur dan terjadwal setiap hari,” kata Tati.

2. Memberikan sayuran

Bunda perlu membiasakan untuk memberikan sayuran pada menu makan utama anak ya. Jangan menyerah da coba berulang-ulang sampai anak benar-benar mengenal rasa sayuran

3. Memberikan buah

Buah memiliki rasa manis yang disukai anak-anak usia di bawah 5 tahun, Bunda. Kita dapat memberikan buah sebagai selingan antara dua waktu makan utama.

4. Menyediakan bahan makanan kaya serat

Bunda perlu menyiapkan berbagai bahan makanan yang kaya akan serat bila menu makan utama anak tidak mampu memenuhi kebutuhan hariannya. Contoh makanan berserat adalah roti, biskuit, atau sereal.

5. Tambahkan serat pada sup

Saat membuat sup, Bunda bisa menambahkan bahan makanan tinggi serat ya. Selain sayur, jangan lupa tambahkan kacang-kacangan atau polong-polongan di dalam hidangan lauk seperti sup.

6. Sediakan produk makanan kaya serat

Selain dari bahan makanan utama, coba sediakan produk makanan yang kaya serat fungsional. Saat ini, sudah banyak produk mengandung serat yang aman dikonsumsi anak-anak.

“Kita sebagai orang tua cukup bertanggung jawab mengenalkan produk tersebut sambil mengenalkan buah dan sayur,” ujar Tati.

7. Membuat makanan selingan

Tak cuma dari makan utama, serat juga bisa dimasukkan sebagai makanan selingan atau camilan. Selain membeli, Bunda bisa membuatnya sendiri di rumah. Jangan lupa untuk melihat apa yang disukai anak ya.

3 Penyebab Anak Susah Tidur, Kesehatan hingga Psikososial Penting Diperhatikan

3 Penyebab Anak Susah Tidur, Kesehatan hingga Psikososial Penting Diperhatikan

Your mind solution – Banyak orang tua khawatir saat anak susah tidur. Padahal, tidur merupakan kebutuhan dasar manusia sejak dari dalam kandungan hingga usia tua.

Kebutuhan tidur sama pentingnya dengan kebutuhan untuk makan, beraktivitas, dan kebutuhan lainnya. Tubuh sendiri memerlukan tidur untuk pemulihan energi setelah beraktivitas.

Pada bayi dan anak-anak, sangat penting untuk mendapatkan tidur yang cukup demi pertumbuhan dan perkembangannya. Tidur yang baik tentu dihitung secara kuantitas maupun secara kualitas, Bunda.

Kebutuhan tidur dari segi kuantitas maksudnya adalah kebutuhan lama waktu tidur dalam sehari. Bayi dan anak dikatakan mengalami gangguan tidur secara kuantitas, jika jumlah waktu tidurnya kurang dari yang seharusnya.

Untuk lebih praktis, dibuat batasan antara jam 19.00 – 07.00. Jumlah waktu tidur bayi dan anak dikatakan kurang apabila belum mencapai 9 jam, atau terbangun tengah malam lebih dari 3 kali dan setiap terjaga lebih dari 1 jam.

Sedangkan tidur yang berkualitas bisa dinilai dari tingkat kepulasan atau mutu tidur tersebut. Tingkat kualitas ini dinilai dari kemudahan memulai tidur dan berapa lama mempertahankan tidur. Kualitas tidur anak dapat digambarkan dengan lama waktu mereka tidur. Serta, keluhan-keluhan yang dirasakan saat tidur ataupun sehabis bangun tidur.

Dampak anak kurang tidur

Di samping itu, kebutuhan tidur bayi berbeda-beda sesuai usia. Waktu tidur bayi yang berkualitas akan memengaruhi tumbuh kembangnya.

Jika bayi mengalami masalah susah tidur, maka dia akan rewel dan mengantuk sepanjang hari. Sedangkan pada anak yang lebih besar akan mengalami kesulitan fokus, gangguan emosi, dan gangguan proses belajar di masa depan.

Sebelum menilai apakah anak mengalami susah tidur, Bunda juga harus memahami kebutuhan tidur anak sesuai usia. Pelajari pula, ritme tidur mereka sejak baru lahir yang akan kemudian akan berubah mengikuti perkembangan usianya.

Pola tidur bayi

Pada bayi baru lahir sampai usia 1 bulan, mereka membutuhkan waktu tidur hampir 18-20 jam sehari. Tapi, varian ini akan terbagi-bagi menjadi sekitar 1-4 jam untuk tidur dan sekitar 1-2 jam untuk minum atau minum.

Bayi akan tidur kembali ketika sudah kenyang. Ingat ya, Bunda, pada usia ini, bayi juga belum bisa membedakan siang dan malam.

Seiring dengan perkembangan anak, setelah mereka berusia 1 bulan, kebutuhan tidur bayi pun akan makin berkurang. Pada usia 1 bulan hingga 1 tahun, kebutuhan tidur bayi hanya sekitar 16-18 jam per hari.

Di usia ini, kemampuannya untuk mengenal tentang siang dan malam makin berkembang. Umumnya sekitar usia 4 bulan, dia mulai bisa membedakan siang dan malam dan mempunyai ritme tidur seperti orang dewasa.

Meski begitu, sampai usia 1 tahun, bayi masih sering terbagun. Namun, intensitasnya akan semakin berkurang, Bunda. Sehingga Bunda dan Ayah tidak perlu khawatir berlebihan saat Si Kecil sering terbangun di malam hari.

Bayi sampai usia 1 tahun masih terbangun 2-3 kali dalam semalam. Setelah usia 1 tahun, kebutuhan tidur bayi menjadi 14-16 jam sehari. Hampir 70 sampai 80 persen porsi dipakai di tidur malam.

Lalu, kondisi seperti apa yang perlu diwaspadai? Baca di halaman selanjutnya mengenai masalah tidur yang sering dialami bayi.