Corona di Indonesia Melonjak, Waktunya PSBB Ketat Lagi? Ini Kata Pakar

Corona di Indonesia Melonjak, Waktunya PSBB Ketat Lagi? Ini Kata Pakar

Bangkok, Thailand - Mar 2020 : Crowd of unrecognizable business people wearing surgical mask for prevent coronavirus Outbreak in rush hour working day on March 18, 2020 at Bangkok transportation

your mind solution – Corona di Indonesia meningkat drastis dalam sepekan belakangan. Pakar epidemiolog Universitas Grifith Australia Dicky Budiman mendesak penerapan PSBB dengan cakupan wilayah yang lebih luas, tidak sebatas pulau Jawa dan Bali.Ia menyebut, perlu satu bulan ‘tarik rem darurat’ demi menekan kasus Corona yang dinilainya semakin tak terkendali. Bahkan, kata Dicky, kondisi COVID-19 saat ini bukan yang terburuk, masih ada potensi kasus Corona melonjak lebih tinggi di beberapa waktu mendatang.

“Sebetulnya sudah saatnya untuk menerapkan PSBB, tapi masalahnya tidak bisa sporadis tidak bisa parsial harus Jawa Bali, permasalahannya ini sekarang sudah besar, perlu wilayah yang lebih luas, perlu waktu yang setidaknya satu bulan,” beber dr Dicky Sabtu (12/6/2021).

“Pertanyaannya adalah kesanggupan dari pemerintah dalam program untuk masyarakat yang rawan karena dampaknya bisa jauh lebih besar. Nah ini yang tahu adalah pemerintah kondisi keuangan segala macam,” sambungnya.

Alternatif jika lockdown tak diterapkan

Catatan kasus COVID-19 yang kembali melonjak menurut Dicky jangan dijadikan suatu ‘aib’. Hal ini dikarenakan kasus Corona yang terjadi di lapangan jauh dari catatan yang selama ini dilaporkan. Lantas bagaimana jika tak bisa menerapkan PSBB atau lockdown?

“Artinya jika penerapan itu tidak dilakukan, PSBB atau lockdown itu, ya deteksi dini ke rumah-rumah harus dilakukan dengan testing tracing,” kata dia.

“Dirubah lah paradigma bahwa kasus banyak itu ya memang sudah banyak di masyarakat. Jangan menjadi semacam aib karena akhirnya mengundang masalah yang jauh lebih besar,” bebernya.

Warning kasus Corona di luar DKI Jakarta

Alih-alih mengkhawatirkan peningkatan kasus Corona DKI Jakarta mencapai lebih dari 300 persen, Dicky malah memperingatkan wilayah yang belum mampu mendeteksi kasus Corona dengan baik. Terlebih di tengah penerapan strategi dengan tolak ukur data tidak akurat.

“Nah apa yang terjadi di DKI bukan berarti di daerah lain tidak ada, ingat lho, DKI adalah testing dan tracingnya terbaik, nah saya tidak terlalu khawatir dengan DKI, yang saya kuatir itu di luar 3 provinsi ya yaitu di luar DKI Jogja dan Sumatera Barat,” tukasnya.

“Karena cakupan testing mereka, pemahaman situasinya sangat minim sekali, sehingga potensi ledakan kematiannya luar biasa besar dan ini yang harus dipahami oleh para kepala daerah dan di tengah ancaman varian baru ini apalagi dengan strateginya tidak bermodal data yang benar alamat meledak tak terkendali,” pungkasnya.

Jangan Langsung Percaya, Begini Cara Menghadapi Hoaks Vaksinasi COVID-19

Jangan Langsung Percaya, Begini Cara Menghadapi Hoaks Vaksinasi COVID-19

Your mind solution – Di tengah pemberian vaksin COVID-19 di Indonesia yang masih berlangsung sampai saat ini, Kementerian Kominfo pada Jumat (4/6) menemukan ada sebanyak 206 hoaks vaksinasi COVID-19 yang tersebar di berbagai platform media sosial. Hoaks tersebut paling banyak disebar di Facebook (sebanyak 1.445 kasus), diikuti oleh Twitter (82), dan Youtube (41).

Banyaknya hoaks vaksin COVID-19 yang tersebar ini tentu bisa membuat masyarakat menjadi bingung, bahkan bisa memengaruhi kepercayaan masyarakat kepada vaksin COVID-19. Padahal, vaksinasi merupakan salah satu upaya yang sedang dilakukan pemerintah untuk memberi perlindungan pada masyarakat terhadap virus corona, sehingga pandemi ini bisa segera diatasi.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk jangan langsung percaya terhadap berbagai informasi yang tersebar di media sosial, tapi biasakan untuk memeriksa kembali kebenaran informasi tersebut. Yuk, ketahui cara menghadapi hoaks vaksin COVID-19 di sini.

 

Cara Menghadapi Hoaks Vaksin COVID-19

Berikut adalah tiga langkah kunci yang diusulkan oleh SciBeh, sekelompok ilmuwan perilaku yang mempelajari pengambilan keputusan, yang ditulis dalam Buku Pegangan Vaksin COVID-19 mereka:

  1. Menilai Sumber Informasi

Tidak semua informasi sama, berguna, dan kredibel. Mengandalkan media sosial, seperti Twitter dan Facebook, untuk mendapatkan informasi tentang COVID dikaitkan dengan berkurangnya perilaku melindungi kesehatan dan meningkatkan kepercayaan pada teori konspirasi.

Sebaliknya, mendapatkan fakta dari media penyiaran dan badan medis yang andal lebih dikaitkan dengan peningkatan perilaku melindungi kesehatan.

Jadi, sebaiknya jangan andalkan media sosial untuk mencari informasi mengenai vaksin COVID-19, tapi carilah informasi dari sumber-sumber terpercaya.

  1. Waspada Terhadap Informasi yang Salah

Teknik yang dikenal sebagai “pre-bunking” membuat orang tidak terpengaruh terhadap argumentasi yang manipulatif. Pre-bunking melibatkan memperingatkan orang-orang bahwa mereka mungkin disesatkan, misalnya dengan mencatat bahwa beberapa pengguna atau kelompok media sosial memiliki agenda tersembunyi, sehingga mereka bisa memberikan studi atau informasi untuk mendukung tujuan mereka.

  1. Membenarkan Informasi yang Salah

Membongkar hoaks yang sudah menarik perhatian masyarakat memang lebih menantang untuk dilakukan daripada teknik pre-bunking, tapi menyajikan alternatif faktual untuk misinformasi bisa efektif mengatasi hoaks.

Misalnya, ‘Rubrik Mitos atau Fakta’ biasanya melibatkan pengulangan fakta yang terbukti, seperti “vaksinasi membantu kamu terhindar dari penyakit COVID-19”, “vaksinasi COVID-19 adalah cara yang aman untuk membantu membangun perlindungan bila kamu sakit”, dan “vaksinasi COVID-19 adalah alat penting untuk membantu menghentikan pandemi”.

Fakta Mengenai Vaksinasi COVID-19

Jadi, penting untuk membekali diri dengan informasi yang benar mengenai vaksinasi COVID-19 agar tidak mudah tertipu oleh banyak hoaks yang beredar di sosial media.

Faktanya, vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu cara untuk melindungi diri dari virus corona yang sedang mewabah saat ini. Vaksin corona bekerja dengan cara membentuk imunitas tubuh untuk mengenali dan melawan virus yang menjadi penyebab COVID-19.

Dengan demikian, ketika suatu hari seseorang yang sudah divaksin terpapar virus COVID-19, maka tubuhnya sudah siap melawannya sehingga tidak menjadi sakit. Kalaupun sakit, maka dampaknya tidak akan parah. Jadi, vaksin COVID-19 tidak membuat seseorang terjangkit COVID-19, melainkan melindunginya dari penyakit tersebut.

Namun, sama seperti obat pada umumnya, vaksin COVID-19 juga memiliki efek samping. Efek samping ini sebenarnya sudah diketahui sejak vaksin dalam fase uji klinis. Efek samping akibat vaksinasi COVID-19 biasanya bersifat ringan. Jumlah yang menerima efek samping juga sangat kecil sekali. Bila menimbulkan efek samping fatal, vaksin tersebut akan dihentikan penggunaannya atau izinnya, sehingga tidak akan digunakan.

Efek samping vaksin Sinovac dan Astrazeneca, misalnya, yang paling umum adalah nyeri di area tubuh yang disuntik, bengkak, rasa tidak enak badan, demam ringan dan sakit kepala. Ada juga orang yang tidak mengalami efek samping apapun setelah divaksin.

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa dengan melakukan vaksinasi COVID-19, mereka telah terbebas sepenuhnya dari infeksi virus Corona dan tidak perlu lagi menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Padahal, risiko reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi masih mungkin terjadi.

Reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi berarti seseorang pernah sekali terinfeksi COVID-19, sembuh, melakukan vaksinasi COVID-19 sampai lengkap, tetapi kemudian terinfeksi kembali. Meski saat ini masih jarang terjadi, beberapa kasus reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi telah dilaporkan di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi - Alodokter

Hal ini menandakan bahwa orang yang pernah terinfeksi virus Corona dan telah divaksin COVID-19 tetap berpotensi tertular dan menularkan virus ini ke orang lain, terutama kelompok orang yang berisiko tinggi.

Kasus Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Bila seseorang sudah pernah terinfeksi virus Corona dan menerima vaksinasi COVID-19 secara penuh, yaitu sampai 2 dosis vaksin, tubuhnya bisa dengan cepat membentuk antibodi yang kuat untuk melawan virus tersebut dan mencegah komplikasi serius ketika nanti ia terpapar.

Namun, meski vaksin COVID-19 dapat melindungi tubuh dari komplikasi akibat COVID-19, hingga saat ini para ilmuan masih terus meneliti lebih lanjut sejauh mana vaksin tersebut dapat mencegah infeksi ulang dan penularan virus Corona kepada orang lain.

Data terkait kasus reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi pun masih terus dikumpulkan dari berbagai negara. Pasalnya, masih belum diketahui dengan jelas perbedaan kasus reinfeksi setelah vaksinasi atau infeksi virus Corona jenis baru.

Di Amerika Serikat terdapat hampir 10.000 kasus reinfeksi COVID-19 dari sekitar 95 juta orang yang telah divaksinasi penuh. Dengan kata lain, hampir sekitar 10 dari 100 orang yang divaksinasi bisa terkena infeksi ulang COVID-19 tanpa gejala atau dengan gejala dan berpotensi menularkan virus penyebab COVID-19 ke orang lain.

Ini tentunya berbahaya bagi orang-orang yang tidak divaksinasi dan berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat COVID-19, termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit yang serius.

Langkah Pencegahan Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Vaksin COVID-19 memang diharapkan menjadi solusi untuk menghentikan pandemi COVID-19. Namun, upaya ini juga harus dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan secara disiplin oleh seluruh masyarakat, termasuk yang sudah divaksin, agar reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi dapat dicegah.

Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Selalu kenakan masker, terutama di tempat-tempat umum, di ruangan tertutup, atau di tempat yang ventilasinya buruk.
  • Jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain.
  • Rajin mencuci tangan.
  • Tutupi mulut saat batuk atau bersin menggunakan lipat siku atau tisu.
  • Hindari keramaian atau kerumunan orang.
  • Hindari mengunjungi orang yang tidak divaksinasi atau berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat COVID-19, seperti anak-anak dan lansia.
  • Ikuti panduan protokol kesehatan dari pemerintah setempat, sesuai situasi dan risiko di area tempat tinggal Anda.

Perlu ditekankan lagi bahwa vaksinasi tidak mencegah COVID-19 secara mutlak dan risiko penularan virus Corona masih tetap ada. Jadi, tetap lindungi diri sendiri demi keluarga dan orang-orang di sekitar Anda.

Apabila masih memiliki pertanyaan seputar reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi, Anda bisa berkonsultasi ke dokter. Jangan sampai termakan isu-isu vaksin COVID-19 yang sumbernya tidak jelas, apalagi sampai ikut menyebarkannya, ya!