Makanan yang Membantu Menjaga Kesehatan Vagina, Wanita Wajib Tahu

Makanan yang Membantu Menjaga Kesehatan Vagina, Wanita Wajib Tahu

your mind solution – Makanan dan minuman yang kita konsumsi ternyata turut menentukan kesehatan vagina. Vagina menggunakan sekresi alami, pertahanan kekebalan, dan bakteri “baik” untuk menjaga dirinya tetap sehat.

Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang juga dapat mencegah infeksi lebih lanjut serta memperbaiki kondisi vagina.

Vagina juga memiliki lingkungan yang cukup asam dengan pH sekitar 4,5. Keasaman ini membantu bakteri sehat untuk tumbuh dan mencegah mikroba berbahaya berkembang.

Beberapa bakteri baik, seperti probiotik, dapat membantu menyeimbangkan tingkat keasaman vagina. Berikut makanan yang bisa dikonsumsi untuk menjaga keseimbangan pH vagina: Probiotik Bakteri spesies Lactobacillus adalah jenis bakteri “baik” yang paling dominan ditemukan di vagina yang sehat. Penelitian telah menunjukan Lactobacillus dapat bermanfaat bagi kesehatan vagina dengan cara berikut: mengatur mikroflora di vagina meningkatkan tingkat keasaman vagina menghentikan mikroba berbahaya agar tidak menempel pada jaringan vagina bekerja dengan sistem kekebalan tubuh.

Sebuah studi tahun 2016 menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen probiotik dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada orang dengan vaginosis bakteri (BV), dan secara signifikan mengurangi pH vagina.

Berikut makanan mengandung probiotik yang bisa kita konsumsi: yogurt dan kefir kimchi dan asinan kubis acar tempe kombucha. Prebiotik Senyawa prebiotik juga dapat membantu menstabilkan pH vagina dengan mendorong pertumbuhan populasi bakteri yang sehat.

Makanan yang kaya akan prebiotik meliputi: daun bawang dan bawang bombay asparagus Bawang putih produk gandum utuh gandum kedelai pisang.

Namun, prebiotik dapat memperburuk kondisi usus, seperti sindrom iritasi usus besar (IBS). Cara lain untuk meningkatkan kesehatan vagina Mengonsumsi makanan menganduk probiotik dna prebiotik secara teratur memang bisa menjaga kesehatan vagina.

Namun, ada cara lain yang harus kita lakukan agar vagina tetap sehat.

Berikut cara tersebut: membersihkan daerah genital dengan sabun ringan tanpa pewangi sebelum membilasnya dengan baik dan mengeringkannya setiap hari atau sesuai kebutuhan selama menstruasi menyeka dari depan ke belakang menggunakan antibiotik dengan tepat dan hanya jika diperlukan mengurangi keringat di sekitar vagina berolahraga secara teratur menjaga berat badan yang sehat tetap menghidrasi mengurangi stres mengenakan pakaian dalam yang longgar dan menyerap keringat.

 

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa dengan melakukan vaksinasi COVID-19, mereka telah terbebas sepenuhnya dari infeksi virus Corona dan tidak perlu lagi menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Padahal, risiko reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi masih mungkin terjadi.

Reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi berarti seseorang pernah sekali terinfeksi COVID-19, sembuh, melakukan vaksinasi COVID-19 sampai lengkap, tetapi kemudian terinfeksi kembali. Meski saat ini masih jarang terjadi, beberapa kasus reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi telah dilaporkan di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi - Alodokter

Hal ini menandakan bahwa orang yang pernah terinfeksi virus Corona dan telah divaksin COVID-19 tetap berpotensi tertular dan menularkan virus ini ke orang lain, terutama kelompok orang yang berisiko tinggi.

Kasus Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Bila seseorang sudah pernah terinfeksi virus Corona dan menerima vaksinasi COVID-19 secara penuh, yaitu sampai 2 dosis vaksin, tubuhnya bisa dengan cepat membentuk antibodi yang kuat untuk melawan virus tersebut dan mencegah komplikasi serius ketika nanti ia terpapar.

Namun, meski vaksin COVID-19 dapat melindungi tubuh dari komplikasi akibat COVID-19, hingga saat ini para ilmuan masih terus meneliti lebih lanjut sejauh mana vaksin tersebut dapat mencegah infeksi ulang dan penularan virus Corona kepada orang lain.

Data terkait kasus reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi pun masih terus dikumpulkan dari berbagai negara. Pasalnya, masih belum diketahui dengan jelas perbedaan kasus reinfeksi setelah vaksinasi atau infeksi virus Corona jenis baru.

Di Amerika Serikat terdapat hampir 10.000 kasus reinfeksi COVID-19 dari sekitar 95 juta orang yang telah divaksinasi penuh. Dengan kata lain, hampir sekitar 10 dari 100 orang yang divaksinasi bisa terkena infeksi ulang COVID-19 tanpa gejala atau dengan gejala dan berpotensi menularkan virus penyebab COVID-19 ke orang lain.

Ini tentunya berbahaya bagi orang-orang yang tidak divaksinasi dan berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat COVID-19, termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit yang serius.

Langkah Pencegahan Reinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi

Vaksin COVID-19 memang diharapkan menjadi solusi untuk menghentikan pandemi COVID-19. Namun, upaya ini juga harus dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan secara disiplin oleh seluruh masyarakat, termasuk yang sudah divaksin, agar reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi dapat dicegah.

Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Selalu kenakan masker, terutama di tempat-tempat umum, di ruangan tertutup, atau di tempat yang ventilasinya buruk.
  • Jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain.
  • Rajin mencuci tangan.
  • Tutupi mulut saat batuk atau bersin menggunakan lipat siku atau tisu.
  • Hindari keramaian atau kerumunan orang.
  • Hindari mengunjungi orang yang tidak divaksinasi atau berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat COVID-19, seperti anak-anak dan lansia.
  • Ikuti panduan protokol kesehatan dari pemerintah setempat, sesuai situasi dan risiko di area tempat tinggal Anda.

Perlu ditekankan lagi bahwa vaksinasi tidak mencegah COVID-19 secara mutlak dan risiko penularan virus Corona masih tetap ada. Jadi, tetap lindungi diri sendiri demi keluarga dan orang-orang di sekitar Anda.

Apabila masih memiliki pertanyaan seputar reinfeksi COVID-19 setelah vaksinasi, Anda bisa berkonsultasi ke dokter. Jangan sampai termakan isu-isu vaksin COVID-19 yang sumbernya tidak jelas, apalagi sampai ikut menyebarkannya, ya!

Sekujur Tubuh Wanita Ini Bengkak karena ‘Alergi Bekerja’, Kok Bisa?

Sekujur Tubuh Wanita Ini Bengkak karena ‘Alergi Bekerja’, Kok Bisa?

Your mind solution – Caitlin Taylor, wanita pekerja bank berusia 30 tahun asal Inggris mengalami bengkak memerah di sekujur tubuh. Pemeriksaan yang ia jalani tak kunjung berbuah hasil. Rupanya, Caitlin alergi pada pekerjaan. Kok bisa?

“Benar-benar menakutkan. Saya terbangun dan tubuh saya dipenuhi ruam ini. Saya tidak bisa bernapas dan melihat dengan jelas. Tubuh saya terlihat seperti habis dibakar atau diserang oleh alien. Sakit sekali,” katanya, dikutip dari Metro News UK, Kamis (27/5/2021).

Setiap hari Cailtin bekerja pukul 7.00-22.30. Ditambah, perjalanan kereta antara rumah dan kantor selama 1,5 jam setiap perjalanan.

Meski kondisinya terus-menerus memburuk, Caitlin tetap memaksakan tubuhnya bekerja. Seiring waktu, stres dan kecemasan ikut menggerogoti tubuhnya.

“Awalnya, saya benar-benar stres dan kecemasan merayap masuk. Kemudian kondisi tubuh saya memburuk. Ruam di kepala saya sangat parah. Kulit saya benar-benar bengkak,” imbuhnya.

 

“Ketika saya bercermin, saya bisa melihat seluruh wajah saya bengkak. Apotek mengatakan itu adalah reaksi alergi dan memberi saya antihistamin, tetapi malah semakin parah dan menyebar ke seluruh leher lengan dan dada saya. Saya mulai mengalami serangan panik,” lanjutnya.

Berdasarkan tes darah, Caitlin didiagnosis mengalami gejala alergi. Namun, dokter tak kunjung berhasil menemukan pemicunya. Ia dianjurkan untuk mengonsumsi obat steroid sehingga berat tubuh bertambah. Tak kunjung pulih, kepercayaandirinya malah ikut anjlok.

Setelah menjalani perawatan intens selama 3 minggu, dokter menduga alergi Caitlin dipicu oleh stres. Mengatasinya, dokter menyarankan Caitlin untuk perlahan mengurangi konsumsi obatnya.

Lantaran tak tahan lagi dengan kondisinya, Caitlin mengambil langkah nekat. Ia berhenti bekerja dan mencairkan seluruh tabungannya untuk berwisata. Mulai dari perjalanan romantis di Spanyol, bersenang-senang di Selandia Baru, Swedia, hingga belajar yoga di Bali.

“Saya meninggalkan semuanya dan tidak punya rencana. Saya takut, saya menangis ketika terbang keluar, tetapi saya memiliki waktu terbaik sepanjang perjalanan,” kata Caitlin.

“Saya menemukan cara baru untuk hidup,” pungkasnya

Kena Panu, Bolehkah Pakai Obat Salep dan Sabun Antijamur Sekaligus?

Kena Panu, Bolehkah Pakai Obat Salep dan Sabun Antijamur Sekaligus?

Your mind solution -saya menderita penyakit panu yang cukup lama dengan bercak keabu-abuan. Apakah boleh jika saya memakai obat salep dan sabun antijamur tanpa resep secara bersamaan Dok?

Jawaban

Panu disebabkan oleh jamur, karena itu biasanya butuh engobata yang cukp lama bahkan bisa sampai berbulan-bulan.

Pengobatan panu yang cukup efektif, murah, dan aman, biasanya memakai obat topikal dengan menggunakan salep antijamur. Pada umumnya salep antijamur dapat dibeli secara bebas oleh pasien dan aman digunakan. Namun, bila lokasinya luas, biasanya pengobatan topikal saja tidak cukup dan memerlukan kombinasi pengobatan sistemik dengan obat minum.

Perlu pemeriksaan oleh dokter untuk memastikan diagnosis dan kesembuhan karena bercak kulit akibat panu biasanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali normal (menggelap kembali sesuai warna kulit).

China Restui Vaksin Sinovac untuk Anak 3-17 Tahun, RI Tunggu Rekomendasi

China Restui Vaksin Sinovac untuk Anak 3-17 Tahun, RI Tunggu Rekomendasi

YOUR MIND SOLUTION – China telah menyetujui izin penggunaan darurat vaksin Sinovac Biotech untuk usia 3-17 tahun. Indonesia masih menunggu rekomendasi pakar untuk menggunakannya pada anak-anak.

Izin penggunaan vaksin Sinovac untuk mencegah COVID-19 pada anak-anak diungkap oleh pimpinan Sinovac Biotech Yin Weidong dalam wawancara televisi. Kapan mulai diberikan, Yin menyebut tergantung strategi pemerintah China.

Yang pasti, anak-anak punya prioritas lebih rendah dibanding lansia berdasarkan tingkat kerentanan.

Hasil awal uji klinis fase 1 dan 2 menunjukkan vaksin Sinovac bisa memunculkan respons imun pada umur 3-17 tahun. Sebagian besar efek sampingnya adalah ringan.

Sementara itu, vaksin Sinopharm yang menggunakan teknologi serupa yakni inactivated virus telah mengirimkan data sebagai bagian dari pengajuan izin. Vaksin ini juga tengah menjalani uji klinis pada anak 3-17 tahun.

Sementara itu, vaksin Cansino juga sudah memasuki uji klinis fase 2 pada anak usia 6-19 tahun.

 

Indonesia bagaimana?

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan tidak akan serta merta memberikan vaksin Corona pada anak. Pihaknya masih menunggu rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), organisasi profesi, dan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Ketua ITAGI Prof Dr Sri Rezeki, SpA(K) menyebut ada kemungkinan Indonesia bisa menggunakan vaksin Sinovac pada anak. Namun pihaknya masih menunggu data-data ilmiahnya untuk dikaji.

“Kita masih menunggu publikasi ilmiahnya,” kata Prof Sri, Sabtu (5/6/2021).

Kata Pakar soal Bahaya Anak Positif COVID-19 dengan Komorbid

Kata Pakar soal Bahaya Anak Positif COVID-19 dengan Komorbid

YOUR MIND SOLUTION– Berdasarkan hasil studi anak-anak memiliki risiko rendah untuk terinfeksi COVID-19. Kalaupun tertular mereka cenderung ringan dan tidak menunjukkan gejala.Kendati demikian, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang juga dokter spesialis anak, Prof. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc mengatakan tidak menutup kemungkinan kalau pasien anak ada yang bergejala berat, masuk ICU, bahkan meninggal dunia akibat COVID-19.

 

Krisis Corona Berdampak Dramatis Pada Anak-anak dan Remaja di Jerman

“Biasanya karena memiliki penyakit lain sebelumnya seperti komorbid atau kurang gizi. Fatalitas di negara lain sebenarnya cukup rendah meski dalam hasil studi di Indonesia kita tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/6/2021).

Lebih lanjut Prof. Cissy menjelaskan menurut jurnal medis berjudul Children and Adolescents With SARS-CoV-2 Infection, saat terinfeksi COVID-19, anak- anak tidak menunjukkan gejala (asymptomatic) atau bergejala ringan.

Oleh karena itu, orang tua harus menjaga agar anak-anak mereka tidak ikut terinfeksi COVID-19. Khawatirnya, lanjut dia, apabila anak anak dengan penyakit penyerta seperti jantung, ginjal, TBC, asma, dapat memperburuk kondisinya apabila tertular COVID-19.

“Protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat untuk menjaga anak-anak tidak tertular COVID-19. Orang tua harus berperan dengan mengajarkan anak-anak mereka cara menjaga diri dengan baik. Perlu diberikan contoh seperti misalnya, tidak dibawa ke kerumunan seperti ke pusat perbelanjaan, piknik, atau ke restoran yang banyak orangnya,” jelas Prof. Cissy.

Apalagi menurut Prof. Cissy orang tua punya peranan penting dalam mencegah penularan COVID-19 ke anak-anak. Sedangkan anak-anak menularkan ke sesamanya dalam level yang moderat.

Kecenderungan level penularan yang tinggi ini disebutnya bergantung pada usia anak. Sementara jurnal medis lain dari RSUD Mataram, NTB dengan judul Characteristics and Outcomes of Children with COVID-19 in West Nusa Tenggara Province, Indonesia menunjukkan fatalitas kasus COVID-19 pada anak karena terlambat datang ke pelayanan kesehatan, adanya penyakit lain, dan akses ke pelayanan kesehatan yang sulit.

Di samping itu, Prof. Cissy juga mengingatkan orang tua akan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak-anak dengan mencukupi kebutuhan makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, istirahat yang cukup, olahraga secara teratur dan cek serta lengkapi imunisasinya.

“Kalau perlu siapkan jadwal kegiatan harian untuk anak usia sekolah dasar. Kalau sudah remaja, kontrol dan tanyakan kegiatan hariannya, ini penting untuk mempersiapkan mereka saat nanti pembelajaran tatap muka dibuka kembali, agar disiplin protokol kesehatan dari rumah sampai sekolah nanti,” pungkasnya.